LATARBELAKANG KIAI ABDUL HANNAN TIBYAN MEMBUAT METODE IKTISYAF
Latarbelakang Kiai Abdul Hannan Tibyan membuat metode Iktisyaf yaitu, yang pertama ingin mengembalikan kaum muslimin faham dan mengerti Al Quran dan As Sunnah secara kaidah Bahasa Arab karena orang yang tidak faham terhadap kaidah Bahasa Arab bisa terjerumus dalam pemahaman yang salah, seperti yang telah terjadi pada zaman Khalifah Ali Bin Abi Tholib. Dikisahkan dari Abul Aswad ad-Du’ali, ketika ia melewati seseorang yang sedang membaca al-Qur’an,
ia mendengar sang qari membaca surat at-Taubah ayat 3 dengan ucapan,
) أَنَّ اللهَ بَرِىءٌ مِّن الْمُشْرِكِيهَ وَرَسُولِه (
dengan mengkasrahkan huruf lam pada kata rasuulihi
yang seharusnya di dhommah. Menjadikan artinya “…Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan rasulnya…” Hal ini menyebabkan arti dari kalimat tersebut menjadi rusak dan menyesatkan. Seharusnya kalimat tersebut
“Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya adalah,
)أَنَّ اللهَ بَرِىءٌ مِّن الْمُشْرِكِيهَ وَرَسُولُه (
berlepas diri dari orang-orang musyrikin.” Karena mendengar perkataan ini, Abul Aswad ad-Du’ali menjadi ketakutan, ia takut keindahan Bahasa Arab menjadi rusak dan gagahnya Bahasa Arab ini menjadi hilang, padahal hal tersebut terjadi di awal mula daulah Islam.
Tujuan yang kedua mengembalikan umat Islam memahami asal-usul ilmu pengetahuan yang telah dikembangkan oleh umat Islam abad pertengahan, terutama di khususkan kepada Santri Puncak Darussalam agar bisa memahami ayat-ayat kauniah yaitu ayat yang di dalamnya terkandung fenomena kongkrit yang cendrung menyentuh ilmu kealaman, seperti ilmu Fisika, Kimia, Biologi. Allah juga menegaskan di dalam Al Quran bahwa, Al Quran itu adalah kitab suci yang di dalamnya terkandung berbagai macam ilmu pengetahuan, kalau sekiranya manusia ingin menulis ilmu pengetahuan tersebut manusia tidak akan bisa
menulisnya. Allah berfirman di dalam Surah Al Kahfi ayat 109 yang artinya “katakanlah Muhammad seandainya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat- kalimat tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat tuhanku, meskipun kami datangkan sebanyak itu pula”. Dalam ayat lain Allah memberikan gambaran tentang teknologi yang menjadi landasan ilmuwan muslim diantaranya tertulis dalam (QS. Yunus, 10:101). Yang artinya “perhatikanlah apa yang ada di antara langit dan bumi. ( QS.Al ambiya’21:16). yang artinya. Dan saya ini tidak menciptakan langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya secara main- main”.
Apabila dicermati ayat tersebut di atas tampak bahwa pengamatan terhadap alam semesta adalah perintah dari Allah SWT yang menciptakan langit. Ayat-ayat kauniah yang dijadikan landasan oleh umat Islam yang pernah mengalami kejayaan di bidang Iptek sebelum orang-orang barat mengalami kejayaan yaitu dimulai pada abad VIII sampai dengan abad XIII. Setelah abad tersebut Iptek dikalangan umat Islam meluncur dengan derasnya sampai dengan sekarang. Islam sangat disegani baik lawan maupun kawan Nabi Muhammad juga memerintahkan kepada umat Islam untuk mencari ilmu di berbagai belahan dunia. Rasulluah Muhammad SAW terutama hadistnya yang populer yang artinya “carilah ilmu walaupun ke negeri Cina". Dengan prinsip tersebut, kaum muslimin berlomba-lomba mencari ilmu pengetahuan ke berbagai penjuru dunia baik Sains yang berasal dari Yunani, Persia , India, dan Cina.
Latarbelakang yang kedua adalah Mengembalikan Identitas Pondok Pesantren dalam penguasaan Al Quran dan Kaidah Bahasa Arab. Perkataan pesantren berasal dari kata santri, yang dengan awalan pe di depan dan akhiran an berarti tempat tinggal para santri untuk menuntut ilmu agama. Sedangkan kata santri pada umumnya memiliki dua makna, pertama; santri adalah orang yang belajar agama Islam di pondok pesantren. Kedua santri adalah gelar bagi orang-orang sholeh dalam agama Islam. Santri, pengambil alihan dari bahasa Sanskerta yaitu bahasa shastri yang memiliki akar kata yang sama dengan kata sastra yang berarti Kitab suci Agama dan pengetahuan.
Adapun tugas utama santri tinggal atau mondok di pondok pesantren adalah untuk belajar agama Islam, karena belajar agama Islam merupakan kewajiban, perintah dari agama. Sebagaimana Rasulullah SAW mewajibkan umat Islam belajar ilmu agama baik laki-laki maupun perempuan sebagaimana sabda beliau yang mulia, tholabul ilmi faridatun ala kulli muslimin wa muslimatin. Untuk memahami Islam dengan baik dan benar santri diwajibkan untuk menguasai bahasa arab beserta kaidahnya, karena dengan penguasaan bahasa arab tersebut santri bisa mengambil dalil dari sumbar agama Islam yaitu Al Quran Dan As Sunnah.
Melalui alasan yang telah dijelaskan di atas, Kiai Abdul Hannan Tibyan dalam pembuatan metode Iktisyaf adalah agar masyarakat Desa Potoan Daya dan sekitarnya khususnya santri Pondok Pesantren Puncak Darussalam bisa memahami Al Quran dan As Sunnah dengan baik sesuai dengan pemahaman para Sahabat dan Salafussoleh.
Melihat sejarah masa lampau. Sebuah Negara yang berdasarkan pada Al Quran dan Sunnah Rasululloh SAW pertama kali berdiri adalah Negara Madinah. Negara Islam pertama di dunia. Negara tersebut berkeyakinan dan mempraktikkan sepenuhnya ajara-ajaran Al Quran. Dengan sistem yang dianut oleh Negara Madinah itu, penduduknya dapat menikmati kedamaian, kemakmuran, persatuan, dan kesatuan politik. Pemahaman masyarakat Madinah terhadap Al Quran dengan benar sesuai dengan tata bahasa arab, Kiai Abdul Hannan Tibyan ingin mengembalikan masyarakat muslim Indonesia khususnya masyarakat Poto’an Daya dan sekitarnya agar menjadi masyarakat Qurani yang sejalan pemahamanya dengan masyarakat Madinah. Kiai Abdul Hannan Tibyan melihat fenomena yang terjadi sekarang, banyak umat muslim Indonesia yang pandai membaca Al Quran, akan tetapi mereka tidak faham terhadap isi dan kandungan Al Quran. Sehingga dengan kebodohan umat Islam tersebut, umat Islam taqlid buta dalam parkara agama, mereka yakin kalau penginkutnya banyak, itulah yang paling benar.
Sedangkan Allah telah menegaskan dalam firmanya yang mulia yang artinya dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya perasangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan. Berdasarkan ayat ini, Indonesialah yang paling banyak ajaran baru yang bukan ajaran umat Islam dimasukkan menjadi ajaran Islam seperti Islam Kejawen, Sapto Darmo. Berdasarkan realita yang telah terjadi di masyarakat tersebut di atas. Kiai Abdul Hannan Tibyan yakin dengan metode Iktisyaflah masyarakat Poto’an dan sekitarnya khususnya Santri Pondok Pesantren Puncak Darussam bisa mengembalikan ajaran Islam, menafsirkan, memahami Al Quran dengan baik dan benar.
Post: AanMaulana