Melihat keadaan dunia yang serba instan saat ini, memahami khazanah al-Qur’an dan Hadits sebagai dua sumber utama agama Islam mendapatkan tantangan berat. Tidak hanya karena pemahamannya yang sulit, tapi juga penjabarannya harus membutuhkan kapasitas keilmuan yang memadai. Oleh karenanya, hal tersebut membutuhkan media yang lebih jelas dan meluas. Kitab-kitab kuning seperti Fiqih, Tafsir, dan Ulumul Hadits karya monumental ulama-ulama salaf hadir ke tengah-tengah umat Islam saat ini tidak lain adalah sebagai media untuk mempermudah memahami agama dari sumbernya langsung, yakni al-Qur’an dan Hadits. Kitab Nahwu-Sharrof seperti al-Jurumiyah, Alfiyah dan Amtsilah at-Tashrifiyah juga dibuat oleh ulama-ulama salaf untuk digunakan sebagai metode membaca kitab-kitab kuning. Faktanya metode tersebut saat ini kurang diminati lantaran kesulitan dalam memahaminya. Dari masalah ini, umat Islam membutuhkan metode yang singkat, padat, dan jelas dalam menguasai gramatikal Arab. Maka Al-Iktisyaf sebagai metode akselerasi memahami agama Islam melalui kitab kuning, ikut di sumbangkan dalam rangka menutupi kekaburan yang kurang diminati ini.
- Sejarah
- Lahirnya metode akselerasi baca kitab kuning Al-Iktisyaf ini ialah spontanitas (hanya coba-coba), bukanlah hasil dari istikhoroh maupun pemikiran panjang. Pada saat itu, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar, KH. Muhammad Syamsul Arifin, menyuruh menantunya, RKH. Abdul Hannan Tibyan untuk memberi pelatihan kepada Calon Guru Tugas Banyuanyar tentang metode baca kitab kuning. Waktu itu beliau selalu menjelaskan tanpa disertai panduan, sehingga pemaparannya kurang terarah. Setelahnya, beliau berfikir bagaimana seandainya jika dibuatkan kitab panduan khusus akselerasi baca kitab kuning. Dari sini beliau mencoba anak SD kelas 3 untuk dilatih dengan metode yang beliau susun. Kala itu metode ini belum selesai semua, hanya selesai Juz 1 (03 Jumadats Tsaniyah 1427 H./29 Juli 2006 M.), itu pun masih sampangan untuk diperbaiki. Setelah itu beliau mencoba untuk mengajarkannya kepada CGT Banyuanyar. Ternyata sambutan masyarakat sangatlah baik, sehingga beliau menseriusi penyusunan metode ini hingga selesai Juz 2 (10 Jumadats Tsaniyah 1428 H./25 Juni 2007 M.).
- Latar Belakang
- Islam adalah agama universal, mencakup keseluruhan, tidak hanya cara beribadah yang terkandung di dalamnya, sampai yang mencakup dengan fenomena konkrit yang menyentuh ilmu kealaman seperti ilmu Fisika, Kimia, dan Biologi pun ada di dalamnya. Umat Islam sendiri untuk bisa memahami agamanya yang universal ini, harus menyelami dua sumber Islam, al-Qur’an dan Hadist. Saat ini, mayoritas umat Islam belum bisa memahaminya secara langsung. Sehingga mereka membutuhkan media ulama salaf sebagai wakil rujukan dalam memahami agama Islam dari dua sumbernya langsung yang dari dulu sudah menyediakan media untuk memahami ajaran Islam yang tertuang di kitab kuning agar mereka faham serta mengerti al-Qur’an dan Hadist. Faktanya, kitab kuning saat ini mulai kehilangan peminatnya, sebab menurut mereka memahaminya agak sulit dan membutuhkan media. Maka dengan ini RKH. Abdul Hannan Tibyan mengumpulkan dan menyusun metode praktis akselerasi baca kitab kuning yang dikemas dengan nama"الإكتشاف في تدريب قراءة كتب السلف للمبتدئين" . Secara leksikal, kata "الإكتشاف" adalah lafadz masdar dari إكتشف-يكتشف yang mempunyai makna “Menemukan”. Dalam etimologi perspektif RKH. Abdul Hannan Tibyan, "الإكتشاف" memiliki makna “Penemuan Baru”, yang secara terminologi melahirkan arti “Penemuan baru dari pada metode akselerasi baca Kitab Kuning” Tidak ada harapan lain bagi beliau selain untuk mengembalikan peserta didik beliau memahami agama langsung dari sumber aslinya, al-Qur’an dan Hadist, melalui kitab kuning karya monumental ulama salaf.
- Tujuan
- Membantu akselerasi baca kitab kuning. Bisa dimisalkan, mondok itu kadangkala, walaupun di pondok salaf sekalipun yang bisa mengaji pada Kiyai harus menempuh satu sampai dua tahun terlebih dahulu, namun di Puncak Darussalam dengan metode ini Alhamdulillah Santri sudah bisa mulai mengaji ke Kiyai setelah setengah tahun belajar serta lulus juz 1. Ini bukti bahwa sudah ada masa dimana anak itu mulai bisa mempercepat waktu untuk menjalankan sebuah proses. “Karena start lebih awal, insyaallah lebih baik” dan ini adalah suatu kebaikan.
- Metode KBM Al-Iktisyaf
Konsep KBM (Kegiatan Belajar-Mengajar) Al-Iktisyaf haruslah telaten, baik santri maupun tutornya. Mulai dari melafalkan, mengajarkan cara memberi makna, serta melalui beberapa pendekatan, baik pendekatan rumus, pendekatan pelafalan dan pendekatan definisi. Juga terdapat beberapa simbol, baik simbol yang bersifat harfiyah, maupun simbol yang bersifat lafdziyah. Contoh ; Mubtada’ awalnya di tandai dengan (م), maknanya “adapun” dan i’robnya rofa’. Pasca pendekatan harfiyah baru ke level selanjutnya, yaitu pendekatan lafdziyah, pengenalan definisi. Definisi “mubtada’’ itu apa?. Terus bertahap hingga pada level pengaplikasian membaca kitab kuning sedikit demi sedikit.
- Penyebaran Al-Iktisyaf
Penyebaran metode Al-Iktisyaf ke penjuru Nusantara tidak lain dan tidak bukan adalah barokah dari Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar, karena ini melalui perintah Banyuanyar, lahirnya disana dan di lounchingkannya juga di sana pula. Proses awalnya dimulai dari alumni-alumni Banyuanyar yang mempunyai Pondok Pesantren. Sampai penyebarannya terdengar ke khalayak ramai.
- Baca Kitab Kuning pasca Al-Iktisyaf
- Membaca kitab kuning tidak cukup dengan sebatas menggunakan metode Al-Iktisyaf saja. Karena metode ini adalah tahap awal, maka selanjutnya adalah pengaplikasian. Sama halnya dengan teori memperbaiki mobil, ketika hanya paham cara memperbaiki mobil, sedangkan tidak pernah praktek, maka itu tidak akan bisa. Intinya metode itu akan berjalan efektif manakala diterapkan melalui pengaplikasian. Contohnya dengan mencoba membaca kitab-kitab klasik sembari mengembangkan gramatikal arab yang diperoleh dari metode Al-Iktisyaf, dengan membaca kitab al-Jurumiyah, al-Imrithi, al-Kawakib ad-Durriyah, Qowaidul Lughah Arabiyah, al-Fiyah ibnu Malik, dan lain sebagainya.
Ini adalah penjelasan rinci yang di kemukakan oleh RKH. Abdul Hannan Tibyan, untuk menjadi pemahaman kepada santri tentang apa sebenarnya Al-Iktisyaf itu, untuk apa, bagaimana, serta kenapa Al-Iktisyaf itu ada.
- Then, bagi kalian yang mau memahami kitab-kitab mulai dari pantai hingga ke semuderanya, maka Al-Iktisyaf inilah yang harus kalian layari pertama. Selamat berlayar !.
Post: AanMaulana