Islamic Boarding School

Puncak Darus Salam

Potoan Daja Palengaan Pamekasan 69362

PERKEMBANGAN PONDOK PESANTREN PUNCAK DARUSSALAM TAHUN 2005-2013

PERKEMBANGAN PONDOK PESANTREN PUNCAK DARUSSALAM

TAHUN 2005-2013

  • Proses pengajaran di Pondok Pesantren Puncak Darussalam tahun 2005 samapai 2006

Pondok Pesantren Puncak Darussalam tahun 2005 sampai 2006 sistem pengajarnya masih menggunakan sistem pesantren zaman dahulu dan lebih banyak memperhatikan pengajaran kitab-kitab klasik yang dikarang oleh ulama salaf yang mengadopsi Mazhab Syafi’e. Tujuan utama pengajaran ini ialah untuk mendidik calon-calon ulama.

  • Sistem Pengajaran di Pondok Pesantren Puncak Darussalam

Adapun metode pengajaran di Pondok Pesantren Puncak Darussalam sebagai berikut.

Metode bandongan atau weton yaitu, dalam metode ini sekelompok 5 murid sampai 50 mendengarkan guru yang membaca, menerjemahkan, menerangkan, dan para santri memberikan makna kundul di bawah deretan teks serta memberikan keterangan di pinggir kitab. Biasanya waktu pengajaranya diberikan setelah waktu sholat fardu.Metode sorongan yang diterapkan di Pondok Pesantren Puncak Darussalam yaitu, pembacaan di hadapan kyai atau asatid, yakni setiap murid secara bergiliran manghadap dan membawa Al Quran, kemudian kyai atau asatid menyuruh santri membacanya serta memperbaiki bacaan makhroj dan tajwid. Selain menerapkan dua metode tersebut, santri yang tinggal menetap di Pondok Pesantren Puncak Darussalam diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan formal di Pondok Pesantren Banyuanayar karena jarak Pondok Pesantren Puncak Darussalam dekat dengan Pondok Pesantren Banyuanyar. Alasan utama kenapa Pondok Pesantren Puncak Darussalam masih belum memiliki lembaga formal, alasan pertama adalah. karena jumlah santri yang menetap atau tinggal di Pondok Pesantren Puncak Darussalam masih 40 santri tetap, 60 santri (colokan) kalong. Alasan kedua adalah, Pondok Pesantren Puncak Darussalam baru berdiri dan belum siap untuk mendirikan pendidikan formal serta Segala fasilitas Pondok Pesantren Puncak Darussalam masih terbatas.

  • Perkembangan Pondok Pesantren Puncak Darussalam sesudah menggunakan metode Iktisyaf 2006-2013

Tahun 2006-2007 merupakan awal perkembangan Pondok Pesantren Puncak Darussalam, ditandai dengan dibuatnya metode Iktisyaf juz pertama tahun 2006 juz kedua tahun 2007. Setelah pembuatan metode Iktisyaf, Kyai Hannan Tibyan mengajar para asatid selama dua bulan untuk menjadi tenaga pengajar. Setelah para asatid menguasai metode Iktisyaf juz pertama dan juz kedua tersebut, Kyai Hannan Tibyan menyuruh para asatid untuk mengajarkan metode tersebut kepada para santri, sakaligus beliau ikut serta di dalamnya. Selama dua tahun lamanya, Pondok Pesantren Puncak Darussalam berhasil menerapkan metode Iktisyaf, keberhasilan tersebut dibuktikan adanya Santri Puncak Darussalam yang pandai membaca kitab kuning dengan dasar  Nahwu Sorrof  dengan benar sejak usia  dini, walaupun Pondok Pesantren Puncak Darussalam berhasil menerapkan metode Iktisyaf, Pondok Pesantren Puncak Darussalam masih mempertahankanmetode lama yaitu bandogan / waton, dan sorongan. Keberhasilan metode inijuga dirasakan langsung oleh Pondok Pesantren Banyuanyar dan merambak beberapa pesantren di tanah air. Keberhasilan metode Iktisyaf di Pondok Pesantren Puncak Darussalam ini membuat penduduk di sekitar Pondok Pesantren Puncak Darussalam dan di luar Kabupaten Pamekasan tertarik untuk menitipkan anaknya ke Pondok Pesantren Puncak Darussalam dan belajar langsung kepada pencetus metode Iktisyaf. Seiring waktu santri yang belajar di Pondok Pesantren Puncak Darussalam semakin bertambah mushollah yang berukuran 6 X 9 M kini harus diperluas. Harapan masyarakatpun terhadap Kyai Hannan Tibyan akan pendidikan anak-anaknya bertambah besar diharapkan Kyai Hannan Tibyan  bukan hanya mengajarkan teori Iktisyaf ini saja untuk memahami kitab- kitab Bahasa Arab akan tetapi diharapkan berkenan mendidik putra putrinya disiplin ilmu lainya.

Dalam membagun pondok pesantren, Kyai Hannan Tibyan berpendapat  bahwa generasi masa depan harus generasi yang bertauhid berakhlakul karimah, multiskill, serta mempunyai semagat juang yang tinggi untuk ikut serta membagun tatanan dunia yang harmunis, agamis, serta seimbang. Maka dari itulah dalam mencetak generasi masa depan, pendidikan di Pondok Pesantren Puncak Darussalam terbagun dari dua pilar generasi ulil albab( orang-orang yang mempunyai pikiran). Yaitu Spiritual Quation (SQ) dan Intelektual Quation (IQ) serta menyinergikan konsep iman sebagai tujuan dan ilmu pengetahuan sebagai pengantar. Dengan alasan tersebut di atas, Pondok Pesantren Puncak Darussalam mendirikan lembaga formal MTS dan MA.

  • Sistem Pengajaran Pondok Pesantren Puncak Darussalam setelah menggunakan metode Iktisyaf

Sistem pengajaran di Pondok Pesantren Puncak Darussalam setelah menggunakan metode Iktisyaf masih mempertahankan metode lama yaitu Bandongan dan Sorongan dan ditambah pembelajaran metode Iktisyaf.

  • Sekolah / Madrasah (Modern) di Pondok Pesantren Puncak Darussalam

Sistem Madrasah di Pondok Pesantren Puncak Darussalam Desa Poto’an Daya Kecamatan Palenggan Kabupaten Pamekasan ada beberapa unit, yakni diantaranya Madarsah Tsyanawiyah dan Madrasah Aliyah. Lembaga tersebut didirikan pada awal tahun 2008 dan masih paralel ( ujian Semester dan Unas ) ke lembaga Pondok Pesantren Banyuanyar. Pada tahun 2011 Pondok Pesantren Puncak Darussalam sudah bisa mengadakan semester dan Unas sendiri.

  • Sistem pembelajaran Pendidikan Formal MTS dan MA di Pondok Pesantren Puncak Darussalam

sistem pembelajaran yang diterapkan di lembaga formal di Pondok Pesantren Puncak Darussalam adalah sistem bimbingan sehingga setiap santri dapat dikontrol perkembangannya setiap saat, baik dari segi perkembangan keilmuan, ibadah, fisikologi, dan perkembangan jasmaniahnya. hasil bimbingan ini dibawa kepengasuh untuk dievaluasi bersama disidang Dewan Pembina Pondok Pesantren Puncak Darussalam.

  • Organisasi internal di Pondok Pesantren Puncak Darussalam

Melihat perkembangan zaman yang semakin maju, dan modern. Kiai Hannan Tibyan menyadari pentingnya sebuah organisasi di dalam pesantren. Beliau mengatakan bahwa kemajuan pesantren tergantung pada perkembangan organisasi yang ada di dalamnya, maka dari itu setiap santri diberi kesempatan untuk memilih kegiatan profesionalisme disiplin keilmuan yang sesuai dengan bakat dan minat mereka, berupa pendalaman Bahasa Arab, Bahasa Ingris, dan Tahfizul Quran, diharapkan selepas belajar di Pondok Pesantren Puncak Darussalam bisa menyebarkan kebenaran Al Quran dan Sunnah Rosul kesuluruh dunia. Dengan alasan tersebut Pondok Pesantren Puncak Darussalam mendirikan organisasi sebagai berikut. 1. MBA Makaz Bahasa Arab 2. PEC Puncak Englis Centre 3. Tahfizul Quran. Selain membentuk organisasi internal. Pondok Pesantren Puncak Darussalm membiasakan hidup sehat setiap santri dimewajibkan berolahraga

 sesuai minat dan kegemaran mereka yaitu dengan menyediakan kelengkapan olahraga yang mereka inginkan sebagai berikut. 1. Sepak Bola 2. Bulu Tangkis

  • Pancak Silat
  • Metode Iktisyaf di Pondok Pesantren Puncak Darussalam

Metode Iktisaf adalah metode akselerasi percepatan membaca Kitab Kuning yang di dalamnya terpadu tiga kitab yang pertama Fathul Qorib Al Mujib kedua Amsilatuttasrif yang ketiga dalah Kitab Imriti. Adapun persyratan santri yang ingin belajar dan mondok di Pondok Pesantren Puncak Darussalam harus memenuhi persyaratan, diantaranya sebagai berikut. Yang pertama anak yang ingin mondok ke Pondok Pesantren Puncak Darussalam harus lancar membaca Al Quran baik dari segi makhrojnya dan tajwidnya. Persyaratan yang kedua santri harus bisa menulis Bahasa Arab

  • Sistem pembelajaran metode Iktisyaf

Sistem yang di terapkan di dalam metode Iktisyaf adalah sistem tutorial kelompok-kelompok yang dipandu oleh asatid. Satu kelompok dibimbing oleh satu ustad. Ustad yang sudah professional memegang dua puluh santri sedangkan ustad yang baru belajar mengajar (belajar) memegang antara lima sampai sepuluh santri. Cara penyampaian metode Iktisyaf yang pertama ustad membacakan, santri memberi syakal yang kedua memberi makna samapai mereka hafal karena penekanan dalam metode Iktisyaf harus hafal, Kemudian dibaca bersama. Yang ketiga menentukan kedudukan setiap kalimat secara Nahwiyah beseta dalil yang diambil dari Kitab Imriti, yang keempat menentuakan bentuk kalimat secara Sorfiah. Setelah para santri menerima empat pembelajaran tersebut di atas, tutor memberi soal yang berkaitan dengan materi yang telah disampaikan dan ditanyakan kepada setiap individu.

Simpulan

 

Pertama melalui metode Iktisyaf, pengasuh Pondok Pesantren Puncak Darussalam menekankan kepada semua Santrinya untuk bisa menguasai Kitab

 Kuning (Nahwu dan Sorrof) tujuan dari pada penguasaan tersebut adalah agar mereka mengerti ayat-ayat kauniah. Kedua tugas santri yang paling utama mondok di pondok pesantren adalah belajar ilmu agama, Berdasarkan tugas santri tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Puncak Darussalam ingin mengembalikan masyarkat Poto’an Daya dan Santri Puncak Darussalam khususnya bangsa Indonesia agar memahami Al Quran dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat Nabi yaitu dengan cara dibuatkanya metode Iktisyaf dan MBA sebagai alternatif untuk memahami keduanya.

Ada dua inti perkembanagan Pondok Pesantren Puncak Darussalam sebelum menerapkan metode Iktisyaf. Pertama tahun 2005 sampai 2006 sistem pengajarnya masih menggunakan sistem pesantren zaman dahulu dan lebih banyak memperhatikan pengajaran kitab-kitab klasik yang dikarang oleh ulama yang mengadopsi Mazhab Syafi’e. Kedua terletak pada metode pengajaran yaitu menggunakan dua metode bandongan atau weton dan sorongan. Metode tersebut diterapkan pada awal berdirinya Pondok Pesantren Puncak Darussalam, dimulai pada tahun 2005-2006.

Ada empat inti perkembanagn Pondok Pesantren Puncak Darussalam setelah menggunakan metode Iktisyaf. yang pertama terletak pada Sistem Pengajaran. tahun 2006 Pondok Pesantren Puncak Darussalam sudah mulai menerapkan metode Iktisyaf. Salain menerapkan metode tersebut Pondok Pesantren Puncak Darussalam masih menggunakan metode lama yang telah dijelaskan di atas . yang kedua awal tahun 2008 Pondok Pesantren Puncak Darussalam mendirikan pendidikan formal MTS MA dan sistem pembelajaranya menggunakan sistim bimbingan.. Tahun 2010 Pondok Pesantren Puncak Darusalam membuat metode Al Kassyaf. Selain mendirikan lembaga formal Pondok Pesantren Puncak Darussalam juga mendirikan organisasi internal yaitu MBA, PEC, Tahfidzul Quran, sepakbola, bulutangkis, pancaksilat.

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Abdurrahman, D. (2007). Metode Penelitian Sejarah . Jogjakarta : Ar Ruzz Media A'la, a. (2006). Pembaruan Pesantren . Jogjakarta: LKis.

Banna, h. A. (1993). Menuju masyarakat qurani . Surabya : Pustaka Progresif. Dhafir, z. (1982). Tradisi pesantren . Jakarta: LP3ES.

Hamdi, r. A. (2009). Santri sableng . Jogjakarta : Lautika .


M.BA., r. (1997). Aliran Kepercayaan Dan Kebatinan . Surabaya : Pustaka Progresif .

MAHLLI, M. (1989). Kode Etik Santri . Bandung : Al Bayan .


QOMAR,   M.    (2005).    Pesantren    Dari    Transformasi    Metodelogi    Menuju Demokratisasi Industri . Surabaya : Pustaka Progresif.

Sarton, G. (1989). Barat Timur dan Islam Dalam Pengembangan Peradaban .

Surabaya : Pustaka Progresif.


Sholihuddin. (2007). Kiai Dan Politik Kekuasaan . Surabaya : FKPI.


Sidiq, m. A. (2000). Pegembangan Wawasan Iptek Pondok Pesantren . Jakarta : Amzah.

Smith, H. (2001). Agama Agama Manusia . Jakarta : Yayasan Obor Indonesia . Suismanto. (2004). Menelusuri Jejak Pesantren . Jogjakarta : Alief Fress.

Sukamto. (1999). Kepemimpinan Kiai Dalam Pesantren . Jakarta : LP3ES. Sukanto. (1994). Al Quran Sumber Inspirasi . Surabaya : Risalah Gusti .

Sukri, K. (2010 ). Perkembangan Nawu Arab . Kuala Lumpur: Dewan Bahasa Dan Pustaka .

 Tontowi, a. A. ( 1992). Selamatkanlah Quranmu Wahai Muslimin. Surabaya Pustaka Progresif.

Hannan .(2014).Wawancara Dengan Pengasuh Pesantren Puncak Darussalam di Desa Poto’an Daya 27 Agustus

Ust Adnan Maulana  .(2014).Wawancara Dengan Pengurus Pesantren Puncak Darussalam di Desa Poto’an Daya 27 Agustus 2014


                                                                                                            Penulis : 

Lukman. alfarisilukman@gmail.com.

Fatihkul Amin Widjijanto

Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sidoarjo Jl. Jenggala Kotak Pos 149 Kemiri

Sidoarjo

Post: Aan Maulana

Tulisan Terbaru
Tulisan Populer
Tulisan Terbaca